TEMPAT NIKAH SIRI DI JOGJA


SELAMAT DATANG

Di Website Ustadz Amal Jasa Nikah Siri/ Penghulu Nikah Siri
Sebelum Membahas Tentang Nikah Siri Yogyakarta, Jasa Nikah Siri Yogyakarta, Penghulu Nikah Siri Yogyakarta, Surat Nikah Siri, Syarat Nikah Siri di Yogyakarta, Hukum Nikah Siri, Tata Cara Nikah Siri di Yogyakarta, Biaya Nikah Siri Yogyakarta, Tempat Nikah Siri di Yogyakarta. 
Simak Ulasan Berikut Ini :

Hubungi Ustadz Amal
WA/Tlp 0819-0366-3728

Langsung Chat Ustadz Amal Via WA 
Klik Gambar WA di Bawah ini
👇👇👇

ALASAN KENAPA HARUS MEMILIH JASA NIKAH SIRI/ PENGHULU NIKAH SIRI KAMI :

1. Amanah Sesuai Syariah

(Jasa Penghulu Nikah siri Kami Berpengalaman Lulusan Pesantren, Mengerti Hukum Syarat Nikah Sah Sesuai Syariah dan Jasa Layanan Nikah Siri Kami Bisa Dipanggil Ke Rumah/Hotel/Masjid/dll)

2. Lengkap Terima Beres

(Kami Menyediakan Fasilitas Lengkap Diantaranya : Tempat, Wali hakim (Wali Nikah), Penghulu Nikah, Saksi-Saksi dan Surat Nikah, Anda bisa Datang saja berdua sama bawa maskawin/mahar)

3. Pembayaran Setelah Nikah

(Pembayaran Administrasi nikah Dibayarkan Setelah Pelaksanaan di tempat Nikah Bisa Lewat Transfer ataupun Cash)

4. Privasi Terjamin Aman

Data Diri Anda tidak kami gunakan untuk hal-hal lain hanya untuk mengisi surat nikah siri, jadi anda tidak perlu khawatir, dokumentasi dan foto pun selalu menggunakan HP/Kamera dari Calon Pengantin, dan tidak untuk Publikasi

JAUHI ZINA !! ZINA NIKMAT SESAAT MENJADIKAN HIDUP GELISAH SEMRAWUT, MENYEMPITKAN REJEKI, MENURUNKAN OMZET USAHA, MEMBUAT HATI GUNDAH, GELISAH, HIDUP BERANTAKAN

JASA NIKAH SIRI YOGYAKARTA MELAYANI WILAYAH : SLEMAN, BANTUL, KULONPROGO, GUNUNGKIDUL, WATES, WONOSARI, PURWOREJO, KLATEN, KEBUMEN, WONOSOBO, MAGELANG, TEMANGGUNG

PENDAHULUAN

Salah satu Keutamaan manusia dibandingkan dengan mahluk ciptaan Allah SWT yang lain adalah di berikannya Akal dan Nafsu, Sampai Rasulullah SAW Bersabada Bahwa Jihad Terbesar adalah melawan hawa nafsu, salah satu nafsu yang melanda manusia adalah nafsu kepada lawan jenis, Sampai Rasulullah Mengatakan Jika kalian berdua an dengan seorang wanita maka yang ketiga adalah syaitan :

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ باِمْرَأَةٍ إِلاَّكاَنَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

Artinya: “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan yang ketiga dari mereka adalah syetan“. (HR. At-Tirmidzi)
Hati-Hati dengan Zina, Karena Zina adalah dosa besar, Mendekati Zina saja tidak boleh apalagi sampai melakukanya, Allah SWT Berfirman :

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“ (Al-Isra’ 32).

ثَـلَاثَةٌ لَا يُـكَـلّـِمُـهُمُ اللّٰـهُ يَوْمَ الْقِـيَـامَـةِ وَلَا يُـزَكّـِيْهِمْ (وَلَا يَـنْـظُـرُ إِلَيْهِمْ) وَلَـهُمْ عَـذَابٌ أَلِـيْمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَـلِـكٌ كَـذَّابٌ ، وَعَائِـلٌ مُسْتَـكْبِـرٌ

Artinya : “Tiga (jenis manusia) yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat dan tidak pula Allah menyucikan mereka dan tidak memandang kepada mereka, sedang bagi mereka siksa yang pedih, yaitu: laki-laki tua yang suka berzina, seorang raja pendusta dan orang miskin yang sombong” (HR. Muslim).


A.   Pengertian  Nikah Siri

Pengertian Nikah Siri/Sirri/Sirih Secara etimologi kata “sirri” berasal dari bahasa Arab, yaitu “sirrun” yang artinya rahasia, sunyi, diam, tersembunyi sebagai lawan kata dari ’alaniyyah, yaitu terang-terangan. Kata sirri ini kemudian digabung dengan kata nikah sehingga menjadi nikah sirri untuk menyebutkan bahwa nikah yang dilakukan secara diam-diam atau tersembunyi.

B.   Apa Itu Nikah Siri

Nikah Siri adalah perkawinan atau pernikahan  yang hanya memenuhi ketentuan agama, yaitu memenuhi syarat dan rukun nikah. Rukun dan syarat nikah itu meliputi:

1. Adanya calon suami dan calon istri
2. Adanya wali pengantin perempuan;
3. Adanya dua Orang saksi yang adil
4. Adanya ijab dan kabul.
5. Adanya Maskawin atau Mahar

Begitu Juga Dengan Nikah di bawah tangan itu Juga dapat diartikan Juga dengan nikah Siri, Pernikahan yang tidak dicatatkan pada instansi terkait, tapi dilaksanakan menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

Jadi Kesimpulanya Nikah Siri/Sirri/Sirih atau Nikah Di bawah Tangan Adalah Pernikahan yang Hanya Mengesahkan Secara Agama nikah yang sembunyi - sembunyi tanpa diketahui oleh orang di lingkungan sekitar. Dan tidak tercatat oleh negra tidak diakui oleh Negara.

“Sebaik-baik Pernikahan Adalah Pernikahan yang di langsungkan oleh Kementerian Urusan Agama (KUA) dimana Sah Secara Agama dan dilindungi Oleh Negara”


Persyartan Nikah Siri Di Yogyakarta Juga Sama Seperti Halnya Persyartan Nikah pada umumnya untuk mengesahkan secara agama, diantaranya :

A.   Syarat nikah siri di Yogyakarta bagi laki-laki

1.      Beragama Islam
2.      Berjenis kelamin laki-laki dan bukan transgender
3.      Nggak melakukan nikah siri dalam paksaan
4.      Nggak memiliki 4 orang istri
5.      Calon istri yang akan dinikahi bukan mahramnya
6.      Pernikahan dilakukan bukan dalam masa ihram atau umrah

B.   Syarat nikah siri di Yogyakarta bagi perempuan 

1.      Beragama Islam
2.      Berjenis kelamin perempuan dan bukan transgender
3.      Ikhlas Menerima dan Menikah
4.      Mempelai perempuan bukanlah istri orang dan nggak dalam masa iddah
5.      Calon suami yang akan menikahinya bukan mahram
6.      Pernikahan dilakukan bukan dalam masa ihram atau umrah

Jika Sudah Siap Untuk Melangsungkan Nikah Siri Silahkan Lengkapi Persyaratan Nikah Siri Berikut Ini :

1.      KTP Calon Suami dan Istri Di Foto Dikirim Ke WA 0819-0366-3728
2.      Sebutkan Nama Ayah Kandung Masing-Masing
3.      Sebutkan Maskawin atau Maharnya apa
4.      Sebutkan Hari- Tanggal- Jam Pelaksanaan Nikahnya
5.      Siapkan Foto Ukuran 2x3 Masing-Masing Sebanyak 2 Lembar
6.      (Foto Bisa Menyusul Bisa di temple Sendiri dirumah)
7.      Siapkan Materai 6000, Sebanyak 4 Buah

Note : Nomor 1,2,3 dan 4 Dikirim Via WA 0819-0366-3728, Untuk Pembuatan Surat Nikah Siri

HUKUM NIKAH SIRI

A. Hukum Nikah Siri Menurut Islam/ Hukum Nikah Siri Dalam Islam

Hukum Nikah Siri SAH, Asal Rukun Syarat Nikah Terpenuhi dan tertunaikan adanya Mempelai Pengantin Laki-Laki dan Perempuan, Adanya Wali, Adanya Saksi-Saksi, Adanya Maskawin atau Mahar, Adanya Ijab dan Qobul. Tapi Pernikahn Siri ( Nikah Siri ) Tidak Sah Secara Negara Karena tidak tercatat di Kementerian Urusan Agama (KUA), Maka sebaik pernikahan adalah pernikahan yang dilaksankan di KUA.
Berikut Kami Lampirkan kepada anda seabgai Penambahan Wawasan dan Pengetahuan tentang Hukum Nikah/Nikah Siri dalam agama Islam, yang mana sumber ini saya ambil dari https://islam.nu.or.id/post/read/84452/definisi-dan-macam-macam-hukum-nikah

Nikah Sendiri Adalah Sunnah Nabi, Pernikah merupakan sebuah ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah bagi mereka yang memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Secara kebahasaan, nikah bermakna “berkumpul”. Sedangkan menurut istilah syariat,
definisi nikah dapat kita simak dalam penjelasan Syekh Zakariya Al-Anshari dalam kitab Fathul Wahab berikut ini:

تاب النكاح. هُوَ لُغَةً الضَّمُّ وَالْوَطْءُ وَشَرْعًا عَقْدٌ يَتَضَمَّنُ إبَاحَةَ وَطْءٍ بِلَفْظِ إنْكَاحٍ أَوْ نَحْوِهِ

Artinya : “Kitab Nikah. Nikah secara bahasa bermakna ‘berkumpul’ atau ‘bersetubuh’, dan secara syara’ bermakna akad yang menyimpan makna diperbolehkannya bersetubuh dengan menggunakan lafadz nikah atau sejenisnya,” (Lihat Syekh Zakaria Al-Anshari, Fathul Wahab, Beirut, Darul Fikr, 1994, juz II, halaman 38).
Dari sudut pandang hukum, Sa‘id Mushtafa Al-Khin dan Musthafa al-Bugha, Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syâfi’i menjelaskan:

حُكم النِكَاحِ شَرْعُا للنكاح أحكام متعددة، وليس حكماً واحداً، وذلك تبعاً للحالة التي يكون عليها الشخص

Artinya : “Hukum nikah secara syara’. Nikah memiliki hukum yang berbeda-beda, tidak hanya satu. Hal ini mengikuti kondisi seseorang (secara kasuistik),” (Lihat Sa‘id Musthafa Al-Khin dan Musthafa Al-Bugha, Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syâfi’i, Surabaya, Al-Fithrah, 2000, juz IV, halaman 17).

Dari keterangan tersebut, bisa dipahami bahwa hukum nikah akan berbeda disesuaikan dengan kondisi seseorang dan bersifat khusus sehingga hukumnya tidak bisa digeneralisasi. Lebih lanjut,

B. Hukum Nikah Siri Menurut Negara ( UU Perkawinan )

Nikah Siri Didefinisakn Sebagai Nikah yang hanya di lakukan oleh modin/ Penghulu Nikah dan di saksikan oleh minimal 2 orang, dan itu sah secara agama, Undang-Undang Perkawinan (UU Perkawinan) Pasal 2 Ayat 1, Berbunyi : “ Perkawinan adalah Sah, Apabila dilakukan menurut Hukum Masing-Masing Agamanya dan Kepercayaanya itu”

C. Hukum Nikah / Hukum Nikah Siri Tanpa Ijin Orang Tua

Salah satu Rukun Syarat Nikah adalah adanya Wali Nikah Bagi Calon Pengantin Wanita, Wali nikah itu yang peratama dari bapak kandung mempelai wanita, jika tidak ada maka kakek dari bapak, jika tidak ada maka saudara kandung laki-laki dari bapak, Jika tidak ada maka saudara kandung laki-laki dari bapak kandung, jika tidak ada maka anak laki-laki dari saudara kandung bapak, dan seterusnya, jika tidak ada maka bisa di wakilkan ke wali hakim.
Menurut Imam Abu Hanifah di bolehkannya wanita menikah tanpa ijin dari walinya, di khususkan bagi seorang janda, dengan merujuk kepada Surat An-Nisa ayat 232,
yang berbunyi :

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ أَزْوَٰجَهُنَّ إِذَا تَرَٰضَوْا۟ بَيْنَهُم بِٱلْمَعْرُوفِ ۗ ذَٰلِكَ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ مِنكُمْ يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۗ ذَٰلِكُمْ أَزْكَىٰ لَكُمْ وَأَطْهَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya : Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma'ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (An-nisa 232), dengan ayat ini Maka Imam Abu Hanifah Membolehkan seorang wanita menikah tanpa ijin dari walinya, jika wali menghalangi pernikahanya dengan alasan tidak syar’i
Berikut Beberapa Tafsir Tentang ayat Tersebut, Diambil Dari Artikel :  https://tafsirweb.com/922-quran-surat-al-baqarah-ayat-232.html

1. Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

“Dan apabila kalian telah menceraikan istri istri kalian dengan talak kurang dari tiga kali dan masa iddah mereka selesai tanpa ada sikap rujuk suami kepada mereka, maka janganlah kalian (wahai para wali) mempersulit wanita-wanita yang telah ditalak itu dengan menghalang-halangi mereka untuk menikah lagi dengan akad baru dengan suami-suami mereka bila mereka memang menghendakinya, dan terjadi saling ridho antara dua belah pihak secara syariat dan kebiasaan yang berlaku. Hal itu adalah satu nasihat yang diarahkan kepada orang dari kalian yang memiliki keimanan yang benar kepada Allah dan hari akhir. Sesungguhnya sikap menghindari menghalang-halangi pernikahan dan memberikan kesempatan kepada suami-suami untuk menikahi istri mereka itu akan lebih mendatangkan keberkahan yang luas dan kesucian kehormatan-kehormatan mereka dan akan lebih besar manfaat dan pahala bagi kalian. Dan Allah mengetahui segala hal yang membawa kemaslahatan sedang kalian tidak mengetahui hal itu.

2. Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 232.

“ Jika kalian mentalak istri kalian dengan talak satu atau dua dan telah habis masa iddahnya, maka janganlah seorang wali menghalangi istri-istri itu untuk kembali kepada suaminya jika keduanya ridha dengan hubungan yang baik. Larangan ini ditaati oleh orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Larangan yang agung ini sungguh lebih bersih dan lebih bermanfaat bagi kalian. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang mengandung kebaikan, sedangkan kalian tidak mengetahuinya. Syeikh as-Syinqithi berkata: firman Allah {فبلغن أجلهن} secara zahir menerangkan bahwa iddah istri benar-benar telah habis. Namun Allah menjelaskan dalam ayat lain bahwa rujuk hanya dibolehkan selama masih dalam masa iddah, hal ini Allah jelaskan dalam firman-Nya {وبعولتهن أحق بردهن في ذلك} dan isim isyarat {ذلك} tertuju pada waktu yang ada dalam masa iddah, yaitu selama tiga kali haid atau tiga kali suci yang Allah sebutkan dalam ayat:

 وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ۚ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا ۚ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (al-Baqarah: 228) Dengan demikian, jelaslah bahwa yang dimaksud dengan {فبلغن أجلهن} yaitu: jika istri yang ditalak telah mendekati habis masa iddahnya. Imam Bukhari mengeluarkan hadits dari Hasan bahwa saudara perempuan Ma’qil bin Yasar ditalak oleh suaminya, lalu suaminya tetap tidak merujuknya sampai habis masa iddah. Kemudian suaminya ingin kembali menjadikannya istri dengan melamarnya, namun Ma’qil tidak merelakan hal itu. Maka turunlah ayat:

 فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ  maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya. (al-Baqarah: 232)

HUKUM NIKAH SIRI TANPA IJIN WALI

A. Nikah Siri Lebih Baik Dari Pada Zina

Bahkan di Pakistan dan Turki Sendiri menikah tanpa kehadiran Orang Tua sebagai hal yang biasa, karena mengambil dari kerelaan diantara keduanta an taodin minhum,
Artikel ini saya ambil dari : https://www.rumahfiqih.com/y.php?id=503

Dalam banyak literatur Fiqih, tak sedikit kita bisa temukan pendapat ulama tentang urgensi keberadaan wali bagi wanita. Sebagian besar ulama menganggapnya sebagai bagian dari rukun dalam nikah yang bilamana tidak terpenuhi maka tidaklah sah pernikahan tersebut. Namun berbeda dengan madzhab Hanafi yang berpendapat bahwa izin dan kehadiran wali hanyalah sebatas kepada hukum yang mustahab (disukai) dan tidak berpengaruh pada keabsahan akad nikah.
Barangkali di tanah air dan sebagian besar negara dengan penduduk muslim, banyak yang menganut pendapat madzhab pertama, atau pendapat jumhur ulama yang mewajibkan izin dan keberadaan wali dalam nikah, bahkan hal ini tertulis dalam regulasi pernikahan dan tertera dalam undang-undangnya.

Begitupula dengan negara yang dominan mengikuti madzhab Hanafi, tentunya mereka tidak menganggap izin dan keberadaan wali sebagai syarat sahnya pernikahan. Sehingga hal tersebut berpengaruh kepada tata cara pernikahan di negara tersebut, bahkan kepada undang-undang terkait perwalian dalam nikah. Seperti di Pakistan, wanita yang sudah masuk kategori dewasa, berakal sehat, dan mampu melakukan akad seperti halnya jual beli, maka dia berhak melangsungkan akad nikah baik dengan adanya izin wali ataupun tidak.

B. Apa Alasan Madzhab Hanafi Membolehkan Nikah tanpa wali ?

Ternyata ada sejumlah dalil dan jawaban dari golongan Hanafiyah tentang kebolehan bagi seorang wanita menikah tanpa wali. Di antaranya adalah dari hadist:

أنّ النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: الْأَيِّمُ أَحَقُّ بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا (رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَأَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَمَالِكٌ فِي الْمُوَطَّإِ

Sesungguhnya Nabi SAW Bersabda: Wanita yang belum menikah lebih berhak atas dirinya daripada walinya (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, dan Malik dalam al Muawatho’)

Selanjutnya dalil dari Riwayat Sahabat:

عن سهل بن سعد قال: جاءت امرأة إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالت: يا رسول الله؛ إني قد وهبت لك من نفسي. فقال رجل: زوجنيها. قال: قد زوّجناكها بما معك من القرآن

Dari Sahal bin Sa’ad berkata: Datang seorang wanita kepada Rasulullah SAW kemudian berkata: wahai Rasulullah, sesungguhnya  aku menyerahkan diriku kepadamu. Kemudian seorang sahabat berkata kepada Rasulullah: Nikahkanlah aku dengannya. Lalu Rasulullah SAW berkata : Aku nikahkan engkau dengannya dengan apa yang miliki dari bacaan Qura’an. (HR. Bukhari)

Dari riwayat di atas, tidak ditemukan redaksi tentang apakah saat itu Rasulullah menanyakan tentang keberadaan wali dari wanita tersebut. justru yang difahami oleh madzhab ini adalah bahwa beliau SAW langsung menikahkan sahabat dengan si wanita tadi.

 Kemudian ada juga dalil dari ayat Al-Qur’an yang dijadikan landasan madzhab ini, diantaranya:

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ

Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya  apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma'ruf. (Al-Baqarah : 232)
Imam Jashos dari Hanafiah menjelaskan tentang ayat ini dalam kitabnya, Ahkamul Qur’an:

وَقَدْ دَلَّتْ هَذِهِ الْآيَةُ مِنْ وُجُوهٍ عَلَى جَوَازِ النِّكَاحِ إذَا عَقَدَتْ عَلَى نَفْسِهَا بِغَيْرِ وَلِيِّ وَلَا إذْنِ وَلِيِّهَا أَحَدُهَا إضَافَةُ الْعَقْدِ إلَيْهَا مِنْ غَيْرِ شَرْطِ إذْنِ الْوَلِيِّ وَالثَّانِي نَهْيُهُ عَنْ الْعَضْلِ إذَا تَرَاضَى الزَّوْجَانِ

Dan ayat ini bermakna kepada sejumlah segi atas kebolehan nikah yang terjadi kepada wanita tanpa adanya wali dan tanpa izin dari walinya. Yang pertama adalah penyerahan otoritas akad kepadanya tanpa syarat harus izin kepada walinya, dan yang kedua larangan terhadap para wali untuk mencegah putrinya bila kedua calon mempelai sama-sama saling ridha.

C.   Jawaban Madzhab Hanafi Terhadap dalil Mayoritas Ulama

  Dalam menanggapi dua hadist yang menjadi landasan Jumhur ulama, para imam madzhab ini berpendapat bahwa hadist pertama yang diriwayatkan Zuhri masih diragukan dan dianggap cidera, Karena saat Zuhri ditanya tentang hal tersebut malah tidak tahu.

  Lalu pada hadist kedua, perlu dilirik kembali redaksinya menurut mereka. Dalam madzhab ini, hadist tersebut berlaku hanya untuk wanita yang belum baligh maka harus ada izin dari wali. Kemudian maksud dari “Janganlah wanita menikahkan wanita lain, dan janganlah wanita menikahkan dirinya sendiri” adalah larangan bagi wanita dewasa menikahkan wanita yang masih anak-anak sepanjang masih ada walinya, serta dilarang bagi wanita yang belum baligh menikahkan dirinya sendiri.

  Secara garis besar semua dalil yang berkaitan dengan pelarangan nikah tanpa wali menurut madzhab ini, objek redaksinya dikhususkan kepada wanita yang belum baligh, tidak berakal, tidak merdeka, dan belum mumayyiz. Adapun dalil dari AL-Qur’an yang digunakan landasan oleh Jumhur, tidak menunjukan pengkhususan kepada hak perwalian yang eksplisit menurut madzhab ini.
Meski demikian, tidak semua ulama madzhab ini sepakat satu suara dalam hal ini, seperti Imam Abu Yusuf yang berpendapat seperti jumhur ulama. Adapula yang mengatakan bahwa akadnya sah namun tetap dihukumi makruh.

D. Semua Wanita Boleh Menikah Tanpa Izin Walinya ?

  Ternyata tidak semua wanita boleh menikah tanpa izin dari walinya, para ulama dari madzhab ini tetap membatasi siapa yang boleh menikah tanpa izin dari walinya. Dikatakan dalam kitab Fathul Qadir dikatakan:

الْوِلَايَةُ فِي النِّكَاحِ نَوْعَانِ: وِلَايَةُ نَدْبٍ وَاسْتِحْبَابٍ وَهُوَ الْوِلَايَةُ عَلَى الْبَالِغَةِ الْعَاقِلَةِ بِكْرًا كَانَتْ أَوْ ثَيِّبًا، وَوِلَايَةُ إجْبَارٍ وَهُوَ الْوِلَايَةُ عَلَى الصَّغِيرَةِ بِكْرًا كَانَتْ أَوْ ثَيِّبًا، وَكَذَا الْكَبِيرَةُ الْمَعْتُوهَةُ وَالْمَرْقُوقَةُ.

Perwalian dalam nikah itu ada dua jenis: jenis yang mandub dan mustahab, yakni perwalian atas wanita yang sudah baligh, berakal, baik itu perawan atau janda. Dan perwalian yang diharuskan yakni perwalian atas wanita yang masih kecil (belum baligh)  baik itu perawan atau janda, begitupula wanita dewasa yang gila dan budak.
Bahkan dalam riwayat lain, imam Hasan As-Syaibani dari Hanafiah mengatakan bahwa yang boleh jika wanita dan lelakinya sekufu, jika tidak sekufu maka tidak boleh bagi wanita menikah tanpa walinya.

  Imam Abu Hanifah mengqiyaskan akad nikah dengan akad jual beli pada umumnya, dimana beliau menitik beratkan kepada pelaku transaksinya adalah baligh, berakal, mumayyiz, dan pada intinya adalah mereka yang mampu melakukan transaksi jual beli secara sehat dan syar’i.

E.  Undang-Undang di Pakistan Terkait Nikah Tanpa Wali

  Berbeda dengan Indonesia, negara yang menamakan dirinya Islamic Republic of Pakistan ini, dominan memegang teguh madzhab Hanafi. Hingga pada konteks pernikahanpun secara de jure dalam regulasi pernikahan antar muslim diatur sesuai faham madzhab Hanafi, termasuk pada hak perwalian.

Dalam Muslim Marriage Act, 1957 article 7 tertulis:

“The age at which a person, being a member of the Muslim community, is capable of contracting marriage shall be sixteen years : Provided that in the case of an intended marriage between persons either of whom being a male is under twenty-one years of age or being a female is under eighteen years of age (not being a widower or widow), the consent to such marriage, of the father if living, or, if the father is dead, of the guardian or guardians lawfully appointed or of one of them, and, if there is no such guardian, then of the mother of such person so under age.         
“Usia minimal bagi seseorang sebagai umat muslim yang diperbolehkan melakukan akad nikah adalah 16 tahun: ini bersyarat dalam hal kesepakatan melakukan nikah bagi laki-laki di bawah 21 tahun, atau bagi wanita di bawah 18 tahun (bukan duda ataupun janda), maka harus ada izin atas pernikahan tersebut dari ayahnya bila masih hidup, bila meninggal, maka izin dari wali atau wali sah yang diwasiatkan atau salah satu dari mereka, dan jika tidak ada wali, maka izin boleh dari ibu sang anak yang di bawah umur tersebut”

Dalam undang-undang ini, menunjukan bahwa wanita di atas usia 18 tahun boleh menikah tanpa wali, dan ini banyak terjadi di Pakistan. 

Kesimpulnya adalah, bahwa Undang-undang pernikahan di Pakistan dalam hal perwalian, memberikan kebebasan kepada wanita yang telah dewasa untuk menikah, baik dengan izin wali ataupun tanpa izinnya. Hal ini tentu mengadopsi dari pendapat madhzab Hanafi yang sangat kuat diikuti oleh muslim di negara ini, yang mana imam Abu Hanifah menganggap nikah dengan izin wali bagi wanita dewasa, berakal, baligh, dan mumayiz, hanyalah sebatas mustahab. Namun tetap bagi mereka, izin wali sangat diutamakan.

Semoga Artikel diatas yang saya ambil dari berbagai sumber artikel dan pendapat para ulama menjadi bahan pertimbangan bagi anda terkait hokum nikah siri atau nikah siri yang tidak mendapat ijin dari orang tua


Tempat Nikah Siri di Yogyakarta Kami sediakan buat anda yang ingin menikah di tempat kami atau pun di masjid atau mushola ataupun jika anda menginginkan tempat sendiri seperti dirumah sendiri, Hotel, Masjid, Restoran dll, kami pun siap di panggil untuk datang kelokasi anda, Informasi Lengkap Tempat Nikah Siri Di Yogyakarta anda Hubungi Ustadz Amal

TEMPAT NIKAH SIRI DI YOGYAKARTA : SLEMAN, BANTUL, KULONPROGO, GUNUNGKIDUL, WATES, WONOSARI, PURWOREJO, KLATEN, KEBUMEN, WONOSOBO, MAGELANG, TEMANGGUNG, HUBUNGI USTADZ AMAL WA/TLP 0819-0366-3728


Untuk Biaya Nikah Siri di Yogyakarta dan Di Setiap Kota Berbeda-beda, Karena Melihat Jauhnya perjalanan transportasi dan lain-lain, Kami pun Menyediakan Paket Lengkap Terima Bersih Meliputi : Tempat, Wali Hakim, Penghulu Nikah, Saksi-Saksi, dan Surat Nikah Siri, Informasi Lengkap Biaya Nikah Siri Di Yogyakarta Anda Hubungi Ustadz Amal Di Nomor Yang tertera diatas.

SURAT NIKAH SIRI

Layanan Jasa Nikah Siri Yogyakarta Kami Juga Menyertakan Surat Nikah Siri di Yogyakarta Untuk Membuktikan Ke Masyarakat Bahwa Anda telah Menikah Secara Agama Islam, kami pun memberikan Surat Keterangan Nikah Siri atau Surat Pernyataan Nikah Siri atau Akta nikah Siri atau Buku Nikah Siri Berbentuk Sertifikat, Kami Tidak Mengeluarkan Buku Nikah Karena Buku Nikah Hanya di dapatkan Jika Anda Menikah di KUA. Informasi Lengkap Untuk Contoh Surat Nikah Siri Di Yogyakarta, Hubungi Ustadz Amal  


Tata Cara Nikah Siri Di Yogyakarta Sendiri ada Empat Macam :

1.     Pembukaan
2.     Khutbatunnikah
3.     Ijab dan Qobul
4.     Doa dan Penutup

Kurang Lebih 15-20 Menit Untuk Pelaksanan Nikah Siri, Jika sudah mantap untuk melaksanakan nikah siri sesuai ketentuan yang ada, anda bisa menghubungi kami selaku JASA NIKAH SIRI YOGYAKARTA atau PENGHULU NIKAH SIRI YOGYAKARTA, Dengan Cara Mengirimkan Persyartan Nikah Siri Ke WA Ustadz Amal Selaku Penghulu Nikah Siri

CARA CERAI NIKAH SIRI

Menurut Jasa Nikah Siri Yogyakarta Perceraian atau talaq dalam pernikahan sering terjadi karena kedua insan yang menjalin hubungan dengan saling mencintai kadang terjadi perselisihan, percemburuan, saling menuduh, saling cemburu dan lain-lain, sebagai wujud kodrat manusiawi, perceraian dlam islam di bolehkan tetapi tidak disukai oleh allah SWT, jika memang terjadi ketidakcocokan dan perceraian atau perpisahan jalinan suami istri harus berakhir, maka cara cerai nikah siri yang pertama kesepakatan kedua belah pihak untuk berpisah, yang kedua hal-hal yang menjadikanya otomatis tercerai dalam agama islam, yang ketiga ucapan talak atau cerai suami kepada istri dengan keadaaan sadar tanpa emosi, dan perceraian dalam nikah siri hanya bisa dilakukan oleh keduanya karena tidak bisa di ajukan ke pengadilan agama.

NIKAH ONLINE

Menurut Jasa Nikah Siri Yogyakarta Nikah Online adalah Pernikahan yang dilakukan melalui media HP Video Call atau Sejenisnya, Tapi kami mensarankan untuk menikah secara tatap muka, karena lebih afdhol, inti dari pernikahan adalah menunaikan rukun syarat nikah, sehingga pernikahanya abasah secara agama
Hukum Nikah Online menurut agama sendiri berbagai macam pendapat, ada kebanyakan mengatakan tidak sah, sebagian mengatakan sah asal rukun syarat nikahnya tertunaikan dan memiliki alas an yang kuat melakukan nikah secara online, seperti saat ini dikarenakan pandemic korona atau hal-hal yang menjadikan mudhorot jika bertatap muka,

NIKAH BEDA AGAMA

Menurut Jasa Nikah Siri Yogyakarta Hukum menikah dengan Agama lain menurut MUI sesuai fatwanya adalah haram dan akad nikahnya otomatis tidak sah, lalu bagaimana jika ingin menikah secara islam tapi beda agama, maka calon pengantin harus bersedia tanpa paksaan ikhlas untuk di mualafkan terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan akad nikah, memang ada beberapa pendapat membolehkan sah saja dalam agama menikah beda agama asal yang beda agama adalah calon wanitanya yang bukan ahli kitab, dangkal keagamaanya terhadap agamanya, tapi sebaiknya menikahlah dengan pasangan anda yang se iman, karena kaitanya dengan rumah tangga agar bisa satu visi. 

JASA NIKAH SIRI/ PENGHULU NIKAH SIRI YOGYAKARTA

Penghulu Nikah Siri Yogyakarta Lulusan Pesantren setidaknya tahu tentang agama Hukum Rukun Syarat Nikah, sehingga pernikahan anda sah secara agama, karena bagaimnapun penghulu nikah bisa jadi untuk konsultasi masalah rumah tangga anda di kemudian hari jika terjadi polemik dalam rumah tangga,

JASA NIKAH SIRI YOGYAKARTA MELAYANI WILAYAH : SLEMAN, BANTUL, KULONPROGO, GUNUNGKIDUL, WATES, WONOSARI, PURWOREJO, KLATEN, KEBUMEN, WONOSOBO, MAGELANG, TEMANGGUNG

HUBUNGI KAMI 

Hubungi Ustadz Amal
WA/Tlp 0819-0366-3728

Langsung Chat Via WA 
Klik Gambar WA di Bawah ini
👇👇👇

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JASA NIKAH SIRI TULUNGAGUNG-TRENGGALEK

NIKAH SIRI JOGJA LENGKAP SURAT NIKAH SIRI

JASA NIKAH SIRI MOJOKERTO-PASURUAN-MALANG